4 Comments

  1. Saya pengunjung setia situs tatakelola ini bang.
    menarik untuk menyimak prediksi kebangkrutan yg dituturkan.
    Kalo kita tengok pemerintah dg utangnya yg makin banyak. Kira2 sudut pandangnya gimana, apakah utang2 pemerintah masih bisa dikatakan sehat? atau kalau ngga, bagaimana kita memprediksi kebangkrutannya bang?

    mungkin tulisan berikutnya bisa memeparkan hal tersebut.

    ntab!

    1. admin
      Author

      Sebelumnya saya ucapkan terimakasih atas atensi bang Ipul terhadap situs kami.

      Terkait dengan pertanyaan Bang Ipul, “Bagaimana kita memprediksi kebangkrutan suatu Negara? (dalam hal ini Indonesia), kami berpendapat bahwa dalam konteks tulisan ini, pertanyaannya akan kami konversi menjadi ”apakah model KMV-Merton” dapat digunakan untuk memprediksi kebangkrutan suatu negara?”

      Yang patut dicermati adalah :
      Pertama, istilah Bangkrut/Pailit untuk Negara

      Apakah ada istilah pailit atau bangkrut untuk Negara? UU Nomor 17 Tahun 2013 tentang Keuangan Negara tidak mengatur suatu keadaan dimana Negara Indonesia bisa dipailitkan atau dibangkrutkan dimuka pengadilan.

      Kebangkrutan pada sektor privat disebabkan oleh kegagalan perusahaan dalam melakukan pembayaran pokok utang dan bunga tepat pada waktunya. Atas kegagalan tersebut, sebagaimana diatur dalam UU Nomor 37 Tahun 2004, maka perusahaan bisa dibangkrutkan. Sedangkan dalam kasus Negara, kegagalan pelunasan pokok utang dan bunga pada waktunya tidak serta merta bisa dijadikan dasar untuk mempailitkan suatu negara, hal ini karena memang tidak ada peraturan perundang-undangan yang mengatur hal tersebut.

      Selain itu, perlu diingat bahwa salah satu keunggulan model KMV-Merton adalah karakteristik bangkrut/pailit dalam model KMV-Merton memiliki kesamaan dengan karakteristik pailit/bangkrut di peraturan perundang-undangan Indonesia. Model KMV-Merton berfokus pada kecukupan nilai pasar aset perusahaan untuk pembayaran pokok utang dan bunga pada jadwal yang telah ditetapkan. Peraturan perundang-undangan berfokus pada ketepatan waktu pembayaran pokok utang dan bunga. Dengan kata lain, jika menurut model KMV-Merton nilai aset tidak mencukupi untuk membayar utang tepat waktu maka bisa dikatakan perusahaan tersebut bisa dipailitkan di muka pengadilan.

      Perbedaan implikasi kegagalan pembayaran utang antara model KMV-Merton dengan implikasi kegagalan pembayaran utang bagi suatu Negara, menunjukkan bahwa tidak tepat jika kita menggunakan model KMV-Merton dalam memprediksi kebangkrutan Negara.

      Kedua, Nilai Pasar

      Nilai Pasar digunakan sebagai satuan nilai untuk memprediksi kebangkrutan dalam model KMV-Merton. Nilai Pasar ini digunakan untuk mengukur nilai aset ketika akan digunakan untuk melunasi utang jatuh tempo. Model KMV-Merton memprediksi nilai pasar aset pada waktu T, dan menilai apakah nilai pasar aset tersebut cukup untuk melunasi utang yang jatuh tempo.

      Nilai Pasar Aset Perusahaan Terbuka bisa diperoleh melalui perhitungan yang diturunkan dari nilai pasar saham perusahaan. Sedangkan seperti kita ketahui, pasar saham untuk Negara tidaklah ada. Dalam konteks Negara, PP Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintah menetapkan bahwa prinsip nilai historis digunakan dalam akuntansi dan pelaporan keuangan. Kendala untuk mengkonversi nilai historis kedalam nilai pasar menyebabkan model KMV-Merton belum bisa digunakan untuk memprediksi kebangkrutan suatu negara.

      Ketiga, apabila tetap dipaksa untuk memprediksi kebangkrutan suatu negara, tentu asumsi-asumsi dan operasionalisasi “kebangkrutan” sendiri harus diredefinisi, kemudian di-breakdown sampai dengan variabel-variabel tertentu yang diyakini dan teruji secara ilmiah dapat mempengaruhi “kebangkrutan” suatu Negara.

      Nah, terkait pertanyaan awalnya, “apakah kita dapat memprediksi kebangkrutan suatu Negara?”, kami berpendapat hal tersebut mungkin saja dilakukan. Hanya saja, model KMV-Merton tidaklah relevan digunakan dalam tujuan tersebut. Untuk model lain yang relevan (dan memang dikembangkan untuk prediksi kebangkutan sektor publik), mohon maaf kami belum menemukannya. Mungkin ada pembaca lain yang dapat berkontribusi memberi contoh literatur?

      Sekian dulu jawaban kami,
      Bagaimana bang ipul? Mohon masukannya.

  2. Selamat Malam Pak Ahzan,

    Ditunggu mengenai pembahasan selanjutnya tentang KMV Model sangat bermanfaat bagi masyarakat yang “iseng” ingin menilai perusahaan tidak hanya berdasarkan laporan keuangan saja (notabene melaporkan kejadian yang sudah terjadi).
    Bahasanya mudah dicerna untuk masyarakat non civitas.
    Terima kasih.

  3. saya mau tanya apa sih keunggulan dan kelemahan metode ohlson itu? terimaksih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.